Begini 5 Cara Mudah Melatih Diri untuk Berpikir Kritis

Memasuki dunia digital menuntut kita harus bisa menyaring informasi dengan cepat, karena itulah berpikir kritis adalah hal yang perlu dilatih oleh orang tua sejak dini. Kemampuan ini memang tidak muncul secara instan, melainkan harus dilatih lewat pola didik yang tepat dan kebiasaan sehari-harinya. Jika ingin anak tumbuh menjadi orang yang berpikir kritis, orang tua wajib tahu cara melatih critical thinking dalam artikel ini. 

Cara Melatih Otak agar Berpikir Kritis

Berikut adalah cara melatih critical thinking yang bisa orang tua terapkan pada anak.

1. Membiasakan anak untuk bertanya

Hal pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah memberikan informasi atau pun bercerita pada anak. Tidak harus tentang masalah akademik, bahkan tentang isu-isu lingkungan pun juga membantu. Setelah itu, ajarkan anak untuk bertanya dan buatlah ia semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. 

Nah, bila anak sudah bertanya, orang tua dan guru pun tidak boleh hanya memberikan jawaban singkat. Melainkan jawaban melalui metode diskusi, yang mana akan terjadi hubungan timbal balik keduanya. Ini akan membiasakan anak agar terbiasa untuk berpikir lebih dalam dan menganalisis sebab akibatnya. 

2. Mengajak anak berdiskusi

Seperti yang disampaikan pada poin pertama, diskusi tidak melulu tentang pelajaran di sekolah, orang tua pun bisa mengajak anak untuk diskusi soal kehidupan sehari-hari. Pancing anak untuk mengemukakan pendapatnya.  Diskusi bisa dilangsungkan di tempat yang tenang dan kondusif, karena ini juga menjadi salah satu faktor konsentrasi belajar siswa, agar ia dapat berpikir dengan jernih. 

Setelah itu, ajarkan pula agar ia dapat mendengarkan dan memahami sudut pandang dari orang lain. Aktivitas ini sangat membantu anak agar dapat menyusun argumen dan memberikan respons dengan cepat pada lawan bicaranya. 

3. Melatih anak agar berani mengambil keputusan

Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan sendiri, bahkan orang dewasa pun kadang ragu akan keputusannya sendiri. Tak lain alasannya karena tidak adanya keberanian dan pendirian yang kuat kenapa keputusan tersebut harus diambil atau dipertahankan. 

Namun, orang tua tidak perlu khawatir. Sebab, ini dapat dilatih dengan memberikan anak pilihan. Misalnya, minta anak untuk memilih kapan jadwal belajar dan bermainnya. Ketika ia memutuskan jadwal tersebut, tentu ia akan berpikir kapan waktu yang efektif agar tetap bisa bermain dengan temannya. Nah, secara tidak langsung ini akan membuat anak terbiasa berpikir dengan cepat dan tepat. 

4. Mengajarkan anak untuk menyaring informasi

Mengingat dunia digital sangat pesat perkembangannya, maka orang tua harus mengajarkan anak agar tidak mudah percaya dengan apapun informasi yang ada di media sosial dan internet sebelum menganalisisnya. 

Ajarkan anak agar terbiasa membandingkan sumber, mengenali fakta, opini, dan tanda-tanda berita hoax. Seiring berjalannya waktu, ini akan meningkatkan kemampuan analisis dan cara berpikirnya. 

5. Menggunakan game 

Ada banyak loh game yang saat ini bisa melatih critical thinking anak, contohnya catur, puzzle, teka-teki, puzzle, dan lainnya. Adanya tantangan dalam setiap game inilah yang melatih otak anak agar terbiasa untuk berpikir cepat, mencari solusi, dan membuat keputusan. 

Itulah cara melatih critical thinking anak. Selain pola didik dari orang tua, lingkungan belajar yang tepat seperti sekolah juga berperan penting mendorong anak untuk memiliki kemampuan ini. Karena itulah, memilih sekolah yang tepat dan bagus dengan program yang sangat lengkap akan semakin melatih kemampuannya. 

SMA Dwiwarna (Boarding School) hadir sebagai sekolah yang mengembangkan banyak program ekstrakurikuler untuk menciptakan siswa yang berprestasi dan mampu berpikir kritis. Tentunya, melalui pendampingan tenaga didik yang profesional dan berpengalaman. 

Tak hanya itu, anak-anak juga punya kesempatan untuk bertukar budaya dan pikiran dengan siswa lain, karena siswa SMA Dwiwarna tidak hanya berasal dari satu kota, melainkan seluruh Indonesia. Hal ini turut mengajarkan siswa agar dapat menghargai keragaman yang ada.

Bagikan Post Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp