Pengertian dan Contoh dari Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme

Di dalam proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menggunakan pendekatan pembelajaran agar bisa lebih mudah dipahami oleh siswa. Salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam proses belajar adalah pendekatan konstruktivisme. Pernahkah Anda mendengar pendekatan ini?

Pendekatan konstruktivisme ini sekarang memang banyak dipilih oleh guru dalam memberikan pembelajaran kepada siswanya di kelas. Hal ini bukan tanpa alasan karena dengan menerapkan pendekatan ini maka siswa bisa lebih memahami materi yang disampaikan. 

Apa Itu Pendekatan Konstruktivisme?

Pendekatan konstruktivisme adalah suatu cara tenaga pendidik atau guru yang bertugas sebagai fasilitator dan juga membimbing siswa dalam menggali ilmu pengetahuan sendiri serta membina sendiri konsep ilmu pengetahuan yang didapatnya melalui pengelaman-pengalaman belajar.

Pendekatan konstruktivisme adalah teori belajar yang mengusung pembangunan kompetensi, keterampilan maupun pengetahuan sendiri secara mandiri oleh siswa yang difasilitasi oleh pendidik melalui berbagai macam rancangan pembelajaran dan juga tindakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan oleh siswa. 

Seorang ahli bernama Abimanyu mengatakan bahwa teori konstruktivisme merupakan pendekatan pembelajaran yang dinilai bahwa jika seseorang dapat membangun pengetahuan sendiri berdasarkan pengalaman orang. 

Sementara Muslich mengatakan jika teori konstruktivisme adalah proses membangun pemahaman dan kreativitas secara aktif yang didasarkan pada pengalaman belajar orang lain. Atau bisa juga berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh orang tersebut. 

Contoh dari Pendekatan Konstruktivisme

Seorang guru Biologi bernama Bu Shinta mengajak siswanya untuk membuktikan apakah benar buah tin merupakan salah satu buah yang spesial sampai disebutkan dalam Al-Qur’an? Untuk membuktikannya Bu Shinta mengajak siswa untuk mengambil mikroskop masing-masing. Supaya bisa menemukan hasilnya maka ada dua sampel buah tin.

  • Sampel satu : buah tin sudah matang dan dalam kondisi yang sangat baik
  • Sampel dua : buah tin dalam kondisi berjamur dan juga lembek seperti busuk
  • Hipotesis : apakah buah tin mengandung cacing?

Adapun konstruktivisme yang didapatkan ketika buah tin dilakukan uji coba menggunakan mikroskop. Para siswa melakukan pengecekan hasil, sempel 1 dan juga sampel 2 tidak ditemukan adanya cacing. Pada sampel dua hanya ditemukan spora jamur. 

Dari hasil pendekatan konstruktivisme diatas maka para siswa dapat mengetahui jika buah tin memang buah yang spesial karena dalam kondisi busuk sekalipun tidak dimakan oleh cacing. 

Tujuan Pendekatan Konstruktivisme

Perlu diketahui jika perubahan itu menjadi salah satu hal yang harus ada dalam proses belajar. Diterapkannya pendekatan konstruktivisme ini bukanlah tanpa tujuan. Ada banyak tujuan yang ingin dicapai, antara lain sebagai berikut:

  • Merangsang siswa untuk berpikir inovatif dan aktif
  • Bisa meningkatkan pengetahuan
  • Menentukan berbagai hal baru
  • Membentuk keahlian sesuai dengan skill yang dimiliki
  • Mendorong siswa untuk berpikir mandiri
  • Membantu siswa dalam memahami isi dari materi pembelajaran
  • Mengasah kemampuan siswa untuk selalu bertanya dan mencari solusi atas pertanyaannya

Sementara manfaat belajar dengan pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut:

  • Bisa mengungkapkan gagasan secara eksplisit
  • Membentuk pengalaman baru
  • Mengajak seseorang untuk berpikir tentang pengalaman yang dimiliki
  • Memberi kesempatan untuk mengidentifikasi perubahan gagasan

Langkah-Langkah Belajar Pendekatan Konstruktivisme

Berikut ini langkah-langkah atau tahapan untuk belajar pendekatan konstruktivisme:

1. Orientasi

Fase orientasi adalah langkah pertama dalam belajar pendekatan ini. Dimana pada fase ini akan memberikan ruang ataupun kesempatan untuk siswa dalam mengembangkan motivasi sesuai dengan topik yang diusungnya. Jika topiknya tentang pembelajaran, maka konteksnya bisa diarahkan dalam pembelajaran. 

2. Elisitasi

Langkah elisitasi ini lebih menekankan pada cara seseorang dalam menggali suatu ide dan mendiskusikan pengetahuan dasar melalui berbagai macam bentuk, seperti tulisan, presentasi ataupun bentuk lainnya.

3. Rekonstruksi Ide

Pada langkah ini, individu hanya cukup melakukan klarifikasi ide yang didapatkan dari berbagai macam perspektif. Jika perlu bisa dengan cara berdiskusi atau melakukan kajian literatur dengan tujuan untuk merangsang gagasan yang sesuai dan tepat. 

4. Review

Jika ada bentuk yang bisa ditampilkan, maka bisa lanjut ke tahap evaluasi atau review serta revisi. Tahapan ini menjadi tahapan yang sangat penting karena Anda bisa mengetahui apa yang salah dan apa yang sudah benar. Pada tahap ini juga bisa merangsang Anda untuk menciptakan ide atau gagasan baru yang bisa dikembangkan. 

Nah itulah informasi tentang pengertian dan contoh dari pendekatan pembelajaran konstruktivisme. Dengan diterapkannya pendekatan ini diharapkan siswa menjadi lebih mudah memahami suatu materi dan bisa berpikir lebih aktif maupun inovatif. Selain pendekatan ini, ada juga pendekatan induktif dan deduktif.

SMA Dwiwarna (Boarding School) menjadi salah satu sekolah terbaik yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Selain itu, sekolah ini juga menyediakan fasilitas sekolah maupun asrama yang sangat lengkap. Tenaga pendidiknya juga berkualitas dan sudah memiliki akreditasi A dengan nilai 98. 

Bagikan Post Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp