7 Dampak Bullying Bagi Korban dan Pelaku

Dampak bullying bagi korban memiliki pengaruh besar terhadap kehidupannya, mulai dari adanya perubahan perilaku dan emosional emosional. Banyak korban perundungan yang akhirnya merasa ketakutan untuk ke luar rumah. 

Namun, perlu diketahui juga perundungan juga dapat dapat berdampak buruk bagi pelaku. Jika tidak ada penanganan atau tindakan maka pelaku akan terbiasa melakukan perundungan. 

7 Dampak Bullying Bagi Korban dan Pelaku 

Perundungan merupakan perilaku tidak terpuji yang harus diberantas. Terlebih di lingkungan sekolah, sangat disayangkan jika terjadi bullying antar siswa. Dampak bullying dapat menyebabkan kondisi belajar menjadi tidak kondusif. Korban juga akan kehilangan semangat belajar karena takut mendapat perlakukan buruk dari pelaku 

Baik itu kekerasan fisik, verbal, maupun emosional. Jenis-jenis bullying tersebut tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik, dan psikis dan emosional korban akan terganggu. Adapun dampak bullying bagi korban dan pelaku, yaitu: 

1. Dampak pada Kesehatan Mental

Korban: Bullying dapat memicu munculnya depresi dan rasa cemas yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental.  Dari kondisi ini tidak jarang korban perundungan melakukan perilaku ekstrim yaitu menyakiti diri sendiri menggunakan benda tajam. 

Pelaku: Kesehatan mental juga dapat terganggu, seperti tidak memiliki rasa empati, egois, dan melakukan tindakan yang lebih kejam. Dampak lain terhadap mental pelaku yaitu rasa bersalah atas tindakan buruk terhadap korban. 

2. Gangguan Emosional

Korban: Perundungan dapat mempengaruhi emosional korban, seperti terisolasi dan merasa tidak memiliki harga diri lagi. Rusaknya emosional juga akan menjadikan korban takut untuk berbicara kepada orang lain. 

Pelaku: Secara emosional pelaku akan memiliki rasa tidak puas, sehingga melakukan bullying terus menerus. Tidak menutup Kemungkinan korban juga akan bertambah.

3. Mempengaruhi Prestasi Akademis 

Korban: Dampak bullying bagi korban pengaruh terhadap prestasi akademis. Adanya depresi dan rasa cemas membuat korban tidak dapat konsentrasi atau fokus belajar. Tidak heran jika nantinya nilai akademik turun.    

Pelaku: Secara signifikan pelaku perundungan tidak berdampak terhadap akademis. Tetapi, ketika fokus merekaa terpecah antara akademis dan perilaku negatif maka tidak menutup kemungkinan adanya penurunan prestasi akademis. 

4. Mempengaruhi Hubungan Sosial

Korban: Dampak perundungan yang sering terjadi pada korban yaitu menjadi lebih tertutup dan enggan bersosialisasi dengan orang lain. Ini karena ada rasa takut dan cemas, sehingga sulit melakukan interaksi dan sulit mempercayai orang lain. 

Pelaku: Saat tindakan pelaku bullying diketahui banyak orang, maka akan mendapatkan sanksi sosial yang berat. Seperti isolasi sosial dan ini dapat berlanjut dalam kurun waktu yang lama, yang mana dapat mempengaruhi kehidupan sosial mereka. 

5. Memicu Sikap Agresif dan Tindakan Ekstrim

Korban: Perundungan dapat memicu sikap agresif sebagai bentuk pertahanan diri. Ditakutkan korban akan melakukan tindakan ekstrim yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. 

Pelaku: Seorang pelaku perundungan lebih cenderung menunjukkan pola perilaku agresif, yang mana melakukan bullying fisik terhadap perilaku. Dampak buruknya yaitu tidak memiliki rasa empati ketika korban merasa ketakutan. 

6. Terjadinya Siklus Bullying yang Berlanjut

Korban: Banyak pelaku bullying karena sebelumnya mengalami tindakan sama yaitu sebagai korban. Hal ini yang akhirnya membuat siklus bullying terus berlanjut.

Pelaku: Jika pelaku bullying tidak dihentikan maka akan terjebak dalam lingkaran perundungan yang berulang. Pelaku menjadi terbiasa dan semakin hilangnya rasa empati. 

7. Hilangnya Rasa Percaya Diri 

Korban: Hampir semua korban perundungan akan merasa tidak percaya diri terhadap dirinya sendiri. Apalagi jika ada perbuatan perundungan menimbulkan bekas luka yang tidak hilang. 

Pelaku: Rasa percaya diri perilaku bisa hilang karena ada ketakutan mendapat perlakuan yang sama dari orang lain. Dengan kata lain tindakan bullying yang dilakukan bisa saja sebagai bentuk pertahanan diri, walau dalam konteks yang negatif.  

Oleh sebab itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dampak bullying. Di lingkungan sekolah misalnya dapat membuat komite Anti Bullying, seperti yang terlaksana di SMA Dwiwarna (Boarding School). 

Sekolah asrama yang berlokasi di Bogor ini menjunjung tinggi nilai dan norma sosial agar siswa memiliki perilaku yang baik. Siswa memiliki rasa empati, rukun dengan teman, dan saling menghargai. 

Terlebih adanya pendidikan agama islam dapat memperkuat ilmu agama dan karakter siswa yang berbudi pekerti luhur. Hal ini sesuai dengan visi dan misi SMA Dwiwarna (Boarding School) dalam membangun generasi penerus yang cerdas dan bermoral.

Bagikan Post Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp