Guru SMA Dwiwarna Belajar Menjadi Guru Abad 21 dari Australia

GURU SMA DWIWARNA BELAJAR MENJADI GURU ABAD 21 DARI AUSTRALIA

Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd (Pemenang I OGN Matematika 2018)

Pendidikan di Indonesia dalam beberapa tahun ini mengalami perbaikan positif yang sangat signifikan dalam menghasilkan lulusan yang dapat bersaing secara global. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencoba memperbaiki kurikulum mulai dari tingkat dasar (PAUD) sampai tingkat menengah atas (SMA/SMK) dengan tujuan agar semua yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terdapat kalimat yang intinya mengamanatkan kepada Pemerintah Negara Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Salah satu arah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan diwajibkan selalu mengembangkan dirinya melalui pengembangan kompetensi secara berkelanjutan. Melalui kegiatan pengembangan kompetensi diri ini akan terwujud pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional yang memiliki ilmu pengetahuan yang kuat, dan memiliki kepribadian yang matang, kuat dan seimbang. Dengan demikian pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan terampil membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penyajian layanan pendidikan yang bermutu. Disamping itu, pendidik dan tenaga kependidikan dapat membantu dan membimbing peserta didik untuk berkembang dalam mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat berubah pada masyarakat abad 21 dan menghadapi era revolusi industri 4.0.

Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah meningkatkan kompetensi guru sebagai pendidik yang profesional. Sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan, tentunya tidak berlebihan jika pemerintah memberikan perhatian yang lebih pada pengembangan guru. Pemerintah dalam melaksanakan program pengembangan kompetensi bagi pendidikan dan tenaga kependidikan telah melakukan beberapa program yang dilakukan di dalam negeri. Untuk lebih memberikan wawasan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada pendidik, maka pemerintah memberikan kesempatan kepada pendidik untuk mengikuti pelatihan di luar negeri Pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan ke luar negeri ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 orang yang terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, widyaiswara, tutor, pendidik Paud, instruktur kursus, penilik, dan pamong belajar dari seluruh Indonesia.

Para guru ini akan dikirim ke beberapa negara, diantaranya Australia, India, Jepang, Belanda, China/Tiongkok, Korea, Malaysia, Jerman, Prancis, Singapura, dan Hongkong. Para guru ini diharapkan dapat menyerap semua materi yang diberikan dan untuk dipraktikkan serta menyebarluaskan kepada guru dan kelompok kerja di daerah mereka. Selain itu, para guru yang mengikuti program tersebut  dapat langsung memperoleh pengalaman dalam proses perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, dan mengalami serta memperhatikan langsung budaya belajar di sekolah dan institusi yang dikunjunginya.

Salah satu guru yang terpilih untuk mengikuti program ini adalah Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd dari SMA DWIWARNA (Boarding School) Bogor. Guru yang merupakan pemenang I Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018 pada bidang matematika ini terpilih mengikuti pelatihan di luar negeri untuk belajar di “The University of Queensland” Australia. Program pelatihan yang akan diikuti adalah Teacher Training on Pedagogical Skills – Applied Teaching Methodologies in the 21st Century. Dukungan penuh dari pimpinan sekolah Ir. Nugrahantoro Yudo, M.Sc sebagai kepala sekolah dan seluruh civitas membuat saya merasa harus memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan kualitas saya pribadi sebagai guru dan menerapkannya di SMA Dwiwarna.

Program yang akan saya ikuti sudah disusun dengan sangat rapi oleh pihak UQ, sehingga kami harus mngikuti program tersebut sebaik mungkin dan harus tepat waktu. Berikut adalah kegiatan yang akan kami lakukan selama di UQ, yaitu

  1. Introduction to Australia/Queensland Education and Curriculum by Prof Patricia Morrel (UQ School of Education), Ms Majella Ferguson (UQ Faculty of Humanties and Social Sciences), and Ms Chloe Lee (UQ Faculty of Health and Behavioural Sciences)
  2. Workshop : 21st Century Education Framework (ITaLi) by Prof. Pedro Teixeira Isaias (ITaLI)
  3. School Visit : Queensland Government School – Morayfield EAST State School
  4. Unpacking School Visit – key points to explore 21st Century Education by Ms Simone Samala
  5. Project Work : seeting up your project by Dr. Kate McLay
  6. Workshop : Planning for learning that supports 21st Century education (ITaLi) by Dr. Hassan Khosravi (ITaLI)
  7. Workshop : Active Learning (ITaLi) by Prof. Pedro Teixeira Isaias (ITaLI)
  8. Activity : Moreton Bay Environmental Education Centre
  9. Workshop : IMPACT Centre
  10. Reflection from IMPACT Centre Visit by Prof. Pedro Teixeira Isaias (ITaLI)
  11. Workshop : Powerful digital technologies for 21st Century Eduction : exploring free digital resources for 21st Century teaching and learning (ITaLi) by Prof. Pedro Teixeira Isaias (ITaLI)
  12. Presentation : Tools and Stratigies for Using Adaptive Learning, Peer Learning and Cocreation (ITaLi) by Dr. Hassan Khosravi (ITaLI)
  13. Workshop : Using Graphic organisers Gathering, organizing and presenting information and ideas from higher order thinking skills by Dr. Kate McLay
  14. Workshop : Developing rich tasks, problem solving and higher order thinking skills using sic cognitive domain in social sciences (ITaLi) by Dr. Christina Slade (ITaLI)
  15. Individual Project work by Dr. Christina Slade (ITaLI)
  16. Workshop : Inclusion
  17. Workshop : developing flexible learning spaces that promote 21st Century Education
  18. School Visit : Queensland Government School – Cleveland District State High School
  19. Reflection on school visit (ITaLi) by Dr. Hassan Khosravi (ITaLI)
  20. Program wrap up by Dr. Kate McLay
  21. Program presentations form participants-Provide General Feedback by Dr. Kate McLay
  22. Program Evaluation

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dengan sangat menarik, tidak membosankan, penuh inspirasi dan membuat saya selalu termotivasi karena dibimbing oleh dosen yang sangat berpengalaman dan sudah menerapkannya dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Perkuliahan dilakukan dengan metode active learning disertai praktik, diskusi, tugas, presentasi, refleksi, evaluasi, dan tindaklanjut. Inti dari perkuliahan atau pelatihan ini adalah bagaimana kita dapat memahami, mempelajari dan menerapkan semua hal yang baik di Austria untuk diterapkan di Indonesia , sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan cara mengamati dan mengalami secara langsung.

Pelaksanaan kurikulum Australia tingkat Sekolah Menengah Umum untuk bahasa Inggris, matematika, ilmu pengetahuan dan sejarah telah dimulai dan konsultasi selajutnya telah direncanakan sejak tahun 2011. Pengembangan Kurikulum Australia di masa mendatang untuk Kelas Dasar sampai Kelas 12 akan berpusat pada bidang ajaran lainnya yang disebut dalam Deklarasi Melbourne tentangTujuan Pendidikan untuk Para Pemuda/i Australia. Pengembangan ini termasuk pemusatan pada Ekonomi dan bisnis , Ilmu kewarganegaraan, Ilmu Kesehatan dan olah raga, dan Desain dan teknologi. Pemerintah Australia mewajibkan usia sekolah mulai dari usia 5 tahun sampai 16 tahun.

Untuk membuka wawasan kami tentang pembelajaran abad 21, maka Materi Workshop : 21st Century Education Framework dan Powerful digital technologies for 21st Century Eduction : exploring free digital resources for 21st Century teaching and learning (ITaLi)  oleh Institute for Teaching and Learning Innovation (ITaLi) merupakan materi yang membuat wawasan kami menjadi terbuka. Kerangka Kerja P21 untuk Pembelajaran Abad 21 dikembangkan dengan masukan dari guru, pakar pendidikan, dan pemimpin bisnis untuk mendefinisikan dan mengilustrasikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan siswa untuk berhasil dalam pekerjaan dan kehidupan, serta sistem pendukung yang diperlukan untuk hasil pembelajaran abad ke-21. Kami sebagai guru diharapkan mempunyai kemampuan untuk melakukan inovasi pembelajaran dan mempunyai keahlian atau kemahiran tentang digital teknologi untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif. Guru dapat menggunakan beberapa teknologi digital seperti Screencastomatic, Padlet, kahoot, and Poll Everywhere.

Selanjutnya kami diberikan materi bagaimana dapat merencanakan pembelajaran di abad 21, yaitu Planning for Learning that Supports 21st Century Education (ITaLI) yang membahas mengenai empat materi, yaitu How to C hampion the Four C’s in the Classroom?, 21ST CENTURY LEARNING ENVIRONMENT S, Information Media and Technology Skills, and Design Framework. Materi ini mebahas bagaimana kita dapat menerapkan 4Cs dalam pembelajaran di kelas dengan baik, menciptakan lingkungan belajar yang menunjang pembelajaran, data yang sangat diperlukan dalam pembelajaran agar penerapan dan kondisi pembelajaran dapat sesuai dengan kebutuhan siswa, dan bagaimana guru melakukan beberapa rancangan penilaian sesuai dengan kebutuhan seperti : Task, Designing rubrics, Reasons why students cheat, Feedback, and Moderation.

Selain materi yang diberikan secara menarik di dalam kelas, kami juga melakukan kunjungan ke sekolah untuk melihat bagaimana pembelajaran dilakukan. Sekolah yang kami kunjungi adalah dua sekolah milik pemerintah Queensland, yaitu Morayfield EAST State School dan Jinibara State School. Kedua sekolah ini mempunyai sistem pendidikan yang sangat memperhatikan kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Siswa yang mempunyai kebutuhan khusus akan mendapatkan penanganan lebih sejak dari awal masuk sekolah, tetapi dalam pembelajarannya tetap digabungkan dengan siswa lain. Sekolah ini juga menggunakan tenaga ahli dalam bidang penanganan khusus buat siswa yang mengalami trauma, kurang fokus, lemah dalam belajar ataupu masalah lainnya.

Kedua sekolah juga menggunakan teacher aid untuk bersinergi dengan guru kelas mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaksanaan evaluasi, dan tindaklanjut. Kunci dari kesuksesan pengajaran di kedua sekolah ini adalah moto yang mereka usung yaitu kebanggaan, rasa hormat, pengetahuan. Selain itu guru juga menggunakan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts dan Mathematics) dilakukan dalam setiap pembelajaran. Pembelajaran selalu dimulai dengan WALT (we are learning to), WILF (what i’m looking for), dan TIB (this is because). Bentuk ini seperti di Indonesia, di mana setiap guru harus memberikan tujuan pembelajaran, apa yang dapat dipelajari, dan pentingnya materi yang akan dipelajari.

Untuk dapat menerapkan active learning dalam setiap pembelajaran, maka kami diminta harus memperhatikan teknik pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa. Jangan sampai ada istilah : I see and I forget, I hear and I remember, I do and I understand dalam pembelajaran yang kita lakukan. Ada beberapa strategi agar pembelajaran menjadi aktif (active learning strategies) : Peer Asissted Learning, Case Based Learning, and Problem Based Learning. Selanjunya kami diminta untuk melakukan aktivitas dengan menjawab beberapa pertanyaan dan dipresentasikan di depan kelas. Beberapa pertanyaan yang harus diisi adalah :

  • Active learning strategy selected is :
  • Why did you choose this active learning strategy for your lecture?
  • How can you implement this into your lecture?
  • How would you eluavate success?
  • What are the benefits for students?
  • What are the risks of implementing this? How can you minimize risks?

Kami juga melakukan penelitian Water Sampling and Testing dengan bimbingan Moreton Bay Environmental Education Centre. Kami menaiki kapal inspiration untuk mengikuti kegiatan yang sudah direncanakan oleh UQ yaitu melakukan water sampling and testing. Kegiatan Moreton Bay Environmental Education Centre yang dapat diikuti oleh anak dari umur 10 tahun sampai orang dewasa seperti kami (guru).

Banyak sekali kegiatan yang dilakukan di tengah laut, seperti membuat perangkap kepiting, memberi makan ikan, dan yang paling menarik adalah mengamati plankton. Kami mengamati air yang diteteskan dalam sebuah wadah dengan menggunakan mikroskop untuk melihat jenis plankton yang kami dapatkan. Jika kami melihat plankton, maka kami diminta untuk menekan gambar pada iPad gambar plankton yang sesuai dan wadah tersebut diletakkan di bawah mikroskop dengan pembesaran yang lebih besar dan ditampilkan dalam TV.

Selain belajar di kampus UQ, kami juga belajar disebuah lembaga milik pemerintah yang fokus kepada pendidikan online yaitu IMPACT centre. IMPACT sendiri mempunyai singkatan yaitu Inspire, Model, Practise, Apply, Connect, and Transform. Lembaga ini melakukan pendidikan online untuk meningkatkan pemahaman guru dan siswa terhadap materi pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah pendidikan formal dilaksanakan dan sudah mencakup hampir seluruh dunia. Para siswa, guru, dan istruktur dapat saling berinteraksi dan berdiskusi membahasa suatu topik yang sudah disepakati. Hasil yang diharapkan adalah siswa dapat berpikir kritis dan berpikir kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Sangat menarik sekali kegiatan yang dilakukan dan membuat saya terinspirasi untuk menerapkannya di SMA Dwiwarna.

Dari pelatihan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pada dasarnya sistem pendidikan yang ada di Australia hampir sama dengan apa yang dilakukan di Indonesia, hanya ada beberapa perbedaan yang mendasar diantaranya adalah tujuan yang dicapai, materi atau beban kurikulum yang tidak padat, dan sistem penilaian. Kurikulum di Australia tidak berorientasi kepada nilai semata, tetapi lebih kepada perkembangan individu siswa di setiap tahap pembelajaran. Tentu saja ini akan mempengaruhi sistem pembelajaran secara keseluruhan yang harus dilakukan oleh guru. Guru harus mampu memperhatikan individu setiap siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Guru harus mampu merencanakan pembelajaran dengan baik sehingga dalam pelaksanaan terjadi pembelajaran yang aktif, dimana siswa terlibat dan merasa pembelajaran tersebut penting untuk mereka ikuti.

Kerjasama antara orang tua dan pihak sekolah menjadi bagian terpenting dari pendidikan di Australia yang sangat menunjang perkembangan siswa baik dari segi akademik maupun mentalnya. Pengaruh sosial dan budaya juga sangat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran di setiap sekolah.

Masyarakat di Australia sangat menghargai waktu dalam setiap aktifitas mereka, sehingga dalam pembelajaran di kelaspun mereka selalu tepat waktu mulai dari pukul 09.00 sampai 15.00. Mereka sangat menjaga para siswa mereka, ini terbukti pada waktu kami melakukan kunjungan ke sekolah. Ada peratutan yang melarang kami memfoto aktifitas mereka dan menyentuh siswa mereka, walaupun hanya sekedar memegang tangan atau pundak mereka.

Pendidikan di Indonesia harus lebih konsisten dalam pelaksanaannya, sehingga dapat menghasilkan siswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan juga berkembang baik dalam aspek yang lain. 

Guru juga harus mempunyai data mengenai semua hal yang berkaitan dengan siswa yang diajarkan, sehingga dapat menerapkan metode yang tepat dan membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan data yang tepat guru dapat menerapkan pembelajaran yang aktif dan dapat memenuhi kebutuhan siswa akan materi yang berguna dalam kehidupan mereka.

Pelatihan yang dilakukan tentunya akan terus dipantau, dievaluasi dan ditindaklanjuti oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan meminta guru membuat jurnal harian individu, jurnal mingguan, laporan individu, dan laporan umum, dan tindak lanjut guru dalam program yang sudah diikuti untuk sekolah maupun lingkungan di sekitar sekolah.

Dengan pelatihan ini, kami semua berharap dapat menerapkan ilmu yang kami dapatkan buat kebaikan dan perkembangan pendidikan di Indonesia. Butuh kerjasama, kerja keras, dan dukungan dari semua pihak agar kita bisa mengubah pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi persaingan global. Tidak hanya aspek akademik saja, tetapi ekonomi, sosial, budaya, dan yang terpenting adalah aspek akhlak mulia harus kita tingkatkan terus demi kemajuan bangsa kita.

#Guru Indonesia Agen Perubahan

Bagikan post ini
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *